MIND MAPPING DALAM PEMBELAJARAN IPA
Pembelajaran IPA saat ini menuntut adanya peralihan dari teacher centre learning (pembelajaran yang terpusat pada guru) menjadi student centre learning (pembelajaran yang terpusat pada peserta didik), karena penerapan pembelajaran student centre learning memungkinkan terwujudnya pembelajaran yang aktif, terjadinya interaksi dan komunikasi antar peserta didik, yang dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
Dalam pembelajaran ini, Guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Guru dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran seperti diskusi, eksperimen, presentasi, demonstrasi, inkuiri, mind mapping dll. Nah, melalui pelaksanaan metode-metode pembelajaran tersebut diharapkan potensi peserta didik dapat dikembangkan.
Kali ini penulis akan mencoba menceritakan pembelajaran yang menerapkan metode mind mapping yang penulis lakukan di SMPN 7 Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Apa sih mind mapping itu? Lantas, bagaimana pelaksanaannya di kelas?
Mind mapping adalah suatu bentuk pembelajaran yang digunakan melatih kemampuan menyajikan isi (content) materi pelajaran dengan pemetaan pikiran (mind mapping). Menurut Buzan (2010: 4), mind mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran kita dan merupakan alat pikir organisasional yang sangat hebat. Dalam pembelajaran Guru dapat menugaskan peserta didik membuat mind map secara berkelompok.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam pembelajaran dengan metode mind mapping:
- Guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok. Biasanya dalam satu kelompok berisi 4 - 5 peserta didik.
- Guru membagikan LKPD sesuai materi yang sedang berlangsung, misalnya pada materi Hakekat Sains dengan sub materi Cabang-cabang Sains, seperti pada link berikut:https://raihanimaknah.blogspot.com/2022/07/lembar-kerja-peserta-didik-cabang.html
- Peserta didik membuat mind map bersama kelompoknya dengan alat dan bahan yang diperlukan, seperti kertas karton atau HVS, spidol, pensil warna, penggaris, dan lem.
- Peserta didik berdiskusi dengan anggota kelompok untuk menganalisis, membuat konsep, dan gagasan tentang Cabang-Cabang Sains. Peserta didik diberikan kebebasan untuk menuangkan idenya.
- Peserta didik mempresentasikan karyanya secara bergiliran dengan kelompoknya. Saat salah satu kelompok presentasi, kelompok lainnya diberi kesempatan menilai presenter secara obyektif melalui format penilaian yang diberikan oleh Guru.






Komentar
Posting Komentar